Cetak

ISIS Sebut Pria AS Dalangi Bom Bunuh Diri di Irak

on .

Baghdad - Militan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) mengklaim seorang pelaku jihad asal Amerika Serikat mendalangi serangan bom bunuh diri di Irak. Serangan ini ditargetkan kepada tentara Irak dalam operasi perebutan Tikrit.

"Saudara Abu Dawud al-Amriki (semoga Allah menerimanya) melancarkan aksi bunuh diri dengan truk penuh peledak terhadap rombongan (militer dan milisi Irak)," demikian dilaporkan radio buletin ISIS seperti dilansir AFP, Rabu (4/3/2015).

Tidak dijelaskan lebih lanjut kapan serangan bom bunuh diri yang dilakukan Abu Dawud ini terjadi. Laporan radio ISIS tidak menyebut secara detail identitas pria AS yang dimaksud.

ISIS justru mengklaim bahwa serangan bom bunuh diri itu menewaskan dan melukai puluhan tentara Irak. Tidak ada sumber lain yang bisa mengkonfirmasi klaim ISIS ini.

Berbagai akun media sosial pro-ISIS menyebut, serangan itu terjadi di dekat Samarra, Provinsi Salaheddin pada Senin (2/3). Akun-akun tersebut merilis foto seorang pria yang diklaim sebagai Abu Dawud al-Amriki.

Samarra merupakan wilayah Irak yang dikuasai oleh pemerintah setempat. Wilayah tersebut menjadi markas operasi militer untuk merebut kembali Tikrit dari ISIS.

Komandan militer setempat mengklaim, pergerakan ISIS mulai melambat dan kembali ke taktik gerilya, seperti mengerahkan bom mobil, ranjau dan serangan penembak jitu. ISIS yang berhasil mengambil alih beberapa wilayah Irak sejak tahun lalu, memang sering menggunakan pelaku jihad asing untuk misi bom bunuh diri.

 

Source ; Detik

Cetak

Hubungan Jangka Panjang Australia - Indonesia Bisa Memburuk

on .

Jakarta - Bob Carr, mantan menteri luar negeri Australia dari Partai Buruh, mengingatkan pemerintahan koalisi Partai Liberal dan Nasional pimpinan PM Tony Abbott untuk tidak melakukan pembalasan jika Indonesia tetap menjalankan eksekusi terpidana mati Bali Nine.

"Saya meminta Tony Abbott untuk berpikir lebih jernih lagi," kata Bob Carr kepada ABC, menanggapi reaksi balasan yang kemungkinan dilakukan Australia jika Indonesia tetap mengeksekusi dua gembong narkoba asal Australia itu.
Bob Carr mengakui, semua pihak di Australia sama-sama merasa ngeri terhadap apa yang akan terjadi terhadap Andrew Chan dan Myuran Sukumaran.

"Kita semua bersatu dan berharap bahwa eksekusi ini tidak akan dijalankan," kata Bob Carr.
Namun jika Indonesia tetap melaksanakannya, Bob Carr mengingatkan pemerintah Australia untuk tidak terburu-buru melakukan aksi balasan.

Jika hal itu terjadi, menurut dia, tidak tertutup kemungkinan hubungan kedua negara akan memburuk untuk jangka panjang.
Sementara itu, sejumlah media lokal semakin mempertanyakan peranan Kepolisian Federal Australia (AFP) dalam penangkapan geng Bali Nine di tahun 2005.

Hari Rabu (18/2/2015) salah satu talk show radio di Melbourne misalnya mewawancarai Bob Myers, mantan pengacara keluarga Scott Rush, salah seorang anggota Bali Nine.

Saat ditanya apakah ia menyesal memberitahu polisi AFP mengenai rencana penyelundupan heroin tersebut, Bob Myers mengatakan AFP tidak melakukan pencegahan di Australia, malah menyampaikan informasi ini kepada kepolisian Indonesia yang kemudian menindaklanjutinya.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Australia Julie Bishop bersikukuh bahwa hukuman mati merupakan isu diplomatik bukan semata-mata isu penegakan hukum.

Sebelumnya Menlu Indonesia Retno Marsudi mengatakan eksekusi terpidana mati Bali Nine tidak ditujukan bagi negara tertentu karena merupakan isu penegakan hukum.

"Indonesia sendiri mengirim utusan kepada pemerintah negara lain untuk membatalkan eksekusi mati warga negara Indonesia yang dijatuhi hukuman mati di negara tersebut," kata Menlu Bishop.

"Setahu saya Menlu Indonesia juga pernah melakukan upaya seperti itu, jadi ketika Indonesia melakukannya, jelas ini merupakan isu kebijakan luar negeri karena melibatkan menlu," tambahnya.

Menlu Retno Marsudi Selasa malam menyatakan, "Meskipun kami memahami posisi pemerintah Australia, harus dipahami bahwa ini semata-mata merupakan isu penegakan hukum."

"Penegakan hukum melawan kejahatan luar biasa, penegakan hukum yang dijalankan oleh negara berdaulat," tegas Menlu Retno.
Dalam perkembangan lainnya di Melbourne Rabu (18/2/2015) pagi para praktisi hukum mulai dari hakim, jaksa dan pengacara turun ke jalan melakukan aksi damai mendukung pembatalan eksekusi terpidana mati Bali Nine.

Aksi di pusat kota Melbourne ini antara lain dihadiri Hakim Agung negara bagian Victoria Lex Lasry, yang dalam tiga pekan terakhir menemui Chan dan Sukumaran di LP Kerobokan.

Kepada ratusan peserta aksi damai, Hakim Lasry mengatakan, mengeksekusi kedua orang ini setelah 9 tahun rehabilitasi, akan menjadi tragedi.

Aksi serupa yang melibatkan kalangan praktisi hukum juga dijadwalkan berlangsung di luar gedung Mahkamah Agung negara bagian Australia Selatan.

Sementara aksi damai lainnya yang dikoordinir Mercy Campaign dilakukan serentak di Sydney, Perth, dan Melbourne hari Rabu (18/2/2015) malam.

 

Source : Detik

Cetak

Omar El-Hussein, Pelaku Penembakan di Denmark Baru Bebas dari Penjara

on .

Copenhagen - Pelaku penembakan brutal di Copenhagen, Denmark diidentifikasi sebagai Omar El-Hussein. Pemuda berumur 22 tahun yang lahir di Denmark ini, baru saja bebas dari penjara sekitar dua minggu sebelum kejadian.

Seperti dilaporkan media setempat Ekstra-Bladet dan dilansir AFP, Senin (16/2/2015), Hussein sebelumnya memiliki catatan kriminal dan pernah dipenjara atas kasus penyerangan. Bahkan dua minggu sebelum kejadian, dia baru saja bebas dari penjara.

Kepolisian Denmark belum menyebut nama pelaku. Namun mereka menyebut bahwa pelaku memiliki catatan kriminal, dan sudah dikenal oleh polisi karena banyak terlibat aktivitas geng kriminal setempat.

"Dia seorang pria muda berusia 22 tahun, lahir di Denmark, dan dia sudah dikenal oleh polisi karena beberapa tindak kriminal," demikian pernyataan kepolisian Denmark.

Dalam pernyataannya, kepolisian Denmark hanya menyatakan pelaku memiliki sejarah kasus penyerangan dan pelanggaran hukum lainnya dalam kasus kepemilikan senjata api.

Sedangkan Ekstra-Bladet melaporkan, Hussein menjadi buronan polisi pada November 2013 lalu, atas kasus penikaman seorang penumpang di dalam kereta.

Informasi ini sesuai dengan pernyataan kepolisian Denmark pada tahun 2013 lalu, yang menyebut soal insiden penikaman di kereta oleh seorang pria yang diidentifikasi sebagai Omar El-Hussein.

Kepolisian Denmark kini masih menyelidiki apakah pria ini menerima bantuan dari orang lain atau beraksi sendirian. Polisi juga menyelidiki apakah pelaku pernah pergi ke wilayah konflik, seperti Suriah dan Irak.

 

Source : Detik

Cetak

Enam Orang Tewas Terkena Longsoran Salju di Alpen

on .

HAUTE ALPES – Enam pemain ski tewas terkena longsoran salju di Pegunungan Alpen, Prancis.

Keenam orang tersebut terdiri dari empat pria dan dua perempuan yang diduga berusia 50 sampai 70 tahun. Mereka ditemukan di wilayah Haute-Alpes.

Seperti dilansir Metro, Senin (26/1/2015), longsor salju itu terjadi diduga akibat dari tindakan mereka sendiri yang menyeberang di bawah celah De Mamelle yang menghadap utara lereng dengan kemiringan 45 derajat.

Mereka diperkirakan tertimbun longsoran salju yang meluncur dengan kecepatan setengah mil dari tebing setinggi 1.000 kaki.

Satu helikopter yang berisi Tim SAR dikerahkan untuk mengevakuasi korban. Mereka pun mengungkapkan bahwa seluruh lempengan es dan salju sudah mencair.

Longsoran ini merupakan paling mematikan yang pernah ada di Prancis. Sebelumnya longsoran terjadi pada 1998 di Haute-Alpes, Les Orres. longsoran tersebut menewaskan 11 pejalan kaki. Selama musim salju ini, 17 orang telah tewas akibat longsoran di sana.

 

Source : Okezone

Cetak

Tak Punya Pemerintahan, Yaman Terancam Perpecahan

on .

Sanna – Yaman kini berada dalam kekosongan kekuasaan (vacuum of power) setelah parlemennya gagal menetapkan pemerintahan baru.

Setelah Abd-Rabbu Mansour Hadi menyatakan mundur dari jabatan presiden pada Kamis 22 Januari, Yaman tidak memiliki pemerintahan yang efektif, dan rawan akan perpecahan.

Kelompok Houthi yang telah menguasai Istana Kepresidenan Yaman sejak Rabu 21 Januari, menolak semua draf resolusi perdamaian yang diajukan oleh pemerintah.

Rakyat Yaman menolak Houthi yang sudah menguasai istana. Pada Minggu 26 Januari, Lebih dari 10.000 demonstran memadati jalan-jalan utama di Sanaa untuk menggelar aksi protes.

Para demonstran juga menunjukkan aksi solidaritas kepada mantan Presiden Abd-Rabbu Mansour Hadi.

Kelompok Houthi pun membubarkan para demonstran dengan mengeluarkan tembakan. Aksi saling pukul juga terjadi antara demonstran dengan Kelompok Houthi.

Akibat aksi represif dari Kelompok Houthi, beberapa orang mengalami luka-luka dan sejumlah kamera dari wartawan yang meliput menjadi rusak.

Situasi Yaman yang belum memiliki pemerintahan efektif membuat Amerika Serikat (AS) khawatir.

“Kami akan terus melanjutkan upaya damai dengan pihak yang bertikai di Yaman. Prioritas kami saat ini adalah menjaga seluruh aset dan warga AS aman di sana,” ujar Presiden Obama dalam kunjungan kerjanya di India, seperti dilansir Gulf Daily News, Senin (26/1/2015).

AS khawatir dengan perjuangan Kelompok Houthi dikarenakan kelompok ini mempunyai hubungan yang erat dengan Iran.

 

Source : Okezone

 

E K O N O M I